Laman

In The Name of Allah

In The Name of Allah

Sabtu, 25 Agustus 2012

Motivasi tuk Kader Dakwah

Oleh: Alm. Ust. Rahmat Abdullah *

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.
Ba’da tahmid wa shalawat
Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 : …..

Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah …” (QS. Maryam (19):12)
*Judul Sebenarnya:Membangun dan Membina Militansi Kita

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.
Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:
“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)


Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :
“Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).


Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.
Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.


Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.
Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir’aun.

Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.


Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.
Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.
“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.
“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.

Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.
Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada Tuhan kita”.

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.
Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.

Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.

Wallahu a’lam bis shawab

Rabu, 15 Agustus 2012

Sabtu, 11 Agustus 2012

Teruntuk Pribadi Pemenang




Kau pernah kan mengecap buah yang matang dan rasanya manis nan lezat ?
Ia tak semata menjadi manis secara tiba-tiba
Ada masanya ia menjadi buah yang sepat, lalu menjadi masam
Dan pada akhirnya ia tumbuh menjadi buah segar yang manis hingga di sukai banyak orang

Begitupun kemenangan
Menang tak semata menang secara tiba-tiba
Ada masa perjuangan yang membutuhkan ikhtiar dan doa
Ada masanya gagal, lalu bangkit
Hingga terciptalah kematangan pribadi nan kokoh untuk meraih kemenangan

Itulah proses kemenangan sesungguhnya
Berbeda dengan buah yang matang dengan adonan bahan kimia,
ia secara instan menjadi manis namun tak selezat buah yang matang pada prosesnya

Cilacap, 11 Agustus 2012
Ayyu Zahara

Minggu, 29 Juli 2012

Kau Kemanakan Izzah dan Iffahmu ?

Memang terkesan jadul sekali ketika saya ingin posting ilmu ini, namun inilah realitanya. Pemuda dunia kian kemari kian jadul. Hal-hal yang sudah terbukti salah dan dosa, namun enggan untuk ditinggalkan.
Astaghfirullah..

Berikut saya posting tulisan dari Group Jomblo sampai halal, smg bermanfaat.

Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?
Penasaran saya.....
Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang. Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”
apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’). Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?

Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir… Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…itu membanggakankah? .....hmm……. Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….gubyaakksss....) Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.


Apa yang anda pikirkan tentang pacaran? Berduaan. Boncengan. Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an atau uacchh acchh-an...(lebih dari panggilan, tentunya.....) astaghfirullah…... Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : “Mbak, waktu saya ditugaskan praktek dengan seorang dokter (yang memang sudah buruk imejnya, melayani pasien aborsi), sehari bisa melayani pasien 5-6 orang.”
Bayangkan..! naudzubillah.. Ya Rabb… Dan apa yang mengawali itu semua kebanyakan ? Ya, tepat sekali. Pacaran. dengan level naik seperti yang saya sampaikan tadi.


Menurut pengamatan saya (bukan sebagai pelaku, alhamdulillah, sebab saya menikah sebelum pernah merasakan pacaran yang haram), pacaran ada beberapa macam :

1. Pacaran untuk menikah
Ini masalah niat. Jadi memang sejak awal, berkomitmen untuk menuju jenjang yang lebih ‘serius’. Karena jenjang pacaran ‘kurang serius’. Tapi permasalahannya, tidak sedikit akhirnya tidak berujung pada pernikahan, malah putus di tengah jalan. Memang belum ada data ilmiah berapa persentase yang bisa lanjut, tapi sekali lagi, komitmen ikatan ini lemah. Bisa putus sewaktu2. Kalau begini, statusnya setelah putus tetap ‘mantan pacar’ kan?? masak ‘mantan calon istri/suami?’

2. Pacaran untuk status
Biasanya ini pelakunya ABG. siswa SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Sebab jelas, tidak mungkin niatnya mau menikah. Alasannya untuk teman ngobrol, menambah semangat belajar, kesepian dll (padahal ini hanya kedok, dengan sesama laki-laki atau perempuan sebenarnya juga bisa). Kalau ditanya tentang keseriusan hubungan mereka “Ya, jalani ajalah… kita kan nggak tau apa yang terjadi nanti..”. Waduh, apa bedanya dengan barang ‘sewaan’? Kalo dah bosen, kembalikan aja. Yang lebih kasar lagi, buang aja. Sebab hubungan ini hanya untuk pengakuan. Jaman sekarang jomblo artinya gak laku. Padahal yang benar, ‘barang laku’ itu kalo dibeli. Kalo cuma dicoba berarti tetap belum laku.


3. Pacaran untuk nafsu
Mungkin ini taraf pacaran paling parah. Mencari pasangan hanya untuk memuaskan nafsu saja. naudzubillah.. Komitmen, kesetiaan, perasaan, tidak digunakan sama sekali disini. Saya menjumpai dan mendengarkan secara langsung seorang remaja laki-laki yang terus menerus aktif mengamati perempuan yang dia rasa menarik (secara fisik) untuk dia jadikan pacar. Hanya untuk memuaskan dia. Dan yang jelas setelah bosan, dan pernah merasakan otomatis dia buang. Bahkan dengan terus terang, cowok ini tau mana cewek yang ‘sudah bekas’ ato masih ‘original’. Pastinya, sasaran empuk adalah mereka yang sudah bekas. Dunia yang sangat mengenaskan. Tapi inilah realitanya.


Islam mengatur dengan jelas batasan interaksi laki-laki dan perempuan. Berkali-kali mengatakan bahwa pacaran adalah jembatan untuk berzina. Karena memang benar. 110% benar. Akurat, terpercaya.
Dilihat dari sudut manapun, pacaran adalah gerbang menuju zina. Setan punya banyak cara untuk menggoda manusia. Apalagi dua orang laki2 perempuan bukan muhrim, dalam satu tempat yang sepi.
Awalanya menganggap pegang tangan biasa, kemudian nambah lagi cium pipi biasa, pipi sudah bibir lanjut yang kena. Otomatis kalau sudah ciuman bibir, tangan sang laki-laki akan bergerilya. Terus, dan terus… Sekali mencoba, terlanjur, akhirnya diteruskan saja. Ini sudah klise saya pikir. Tapi tetap saja banyak yang kena. Dan memang, yang haram-haram itu enak. Tapi cuma sementara. Selanjutnya hanyalah rasa bersalah dan ketidak tenangan yang didapat.


Berbanggalah yang tetap berpegang teguh pada prinsip “Pacaran hanya berlaku setelah menikah”. Sebab hingga tiba waktu bertemu jodohnya, dia akan tetap berharga. Jika dikiaskan, ketika diminta memilih, anda memilih BARANG BEKAS, atau BARANG BARU? anda ingin menjadi BEKAS, atau menjadi BARU?



“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….” (QS.24:26)


wallahu’alam bishowab…

Sabtu, 28 Juli 2012

Kunang-Kunang Senja di Metropolitan


Kunang-Kunang Senja di Metropolitan


Keadilan kini rasanya sulit tuk dicari
Tergantikan oleh nikmatnya korupsi yang merajalela
Seperti seekor kunang-kunang senja di metropolitan
Cobalah kini kau cari sorot lampu metropolitan senja hari, tak ada yang mati
Juga kilau lampu kendaraan tiada henti menyambar sang metropolitan
Bersahut dengan kunang-kunang hanyalah mimpi

Bila singgahi desa seringkali kutemui pelita si kunang-kunang
Kerlap-kerlip tak terhalang sorotan lampu
Bersinar tegas lantang
Keadilan masih dipegang


Depok, 28 Juli 2012
Ayyu Zahara


Minggu, 15 Juli 2012

Love Letter from My Little Sister (Osin)



       Pertama aku berjumpa denganmu ketika aku hendak melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim di masjid sekolah. Sontak seketika itu, aku langsung jatuh hati padamu.Hari berikutnya, aku bergegas ketika panggilan itu datang, ada satu tujuan yang terselip ketika itu, aku sangat ingin berjumpa lagi denganmu.Harapankku terkabul.Tak sengaja tatapan mataku dan matamu bertabrakan saat aku mencuri-curi pandang untuk menggagumi sesuatu yang tersembunyi dalam sejuknya wajahmu.Kau melemparkan senyum ramahmu kepadaku.Aliran darah dalam tubuhku seketika mengalir 2 kali lebih cepat dari biasanya. Jantungku berdegup kencang dan mungkin mukaku merah padam, sama seperti muka pemadam kebakaran yang mencoba menaklukan musuh bebuyutannya. Dengan canggung kubalas senyummu.

     Beberapa hari berlalu, hingga akhirnya aku bisa berkenalan dan tahu siapa kau yang sosoknya ku kagumi hinnga kini.Aku memutuskan untuk masuk ke salah satu “rumah” yang menjadi kediamanmu.Awalnya melangkahkan kaki memasuki “rumah” itu semata-mata karena aku ingin tahu lebih jauh tentang dirimu. Di “rumah” itu,aku berkenalan dengan teman seangkatan namun beda kelas dan beberapa kakak angkatan. Aku di kenalkan tentang berbagai hal tentang “rumah” itu agar nantinya aku bisa menjadi penghuni “rumah” yang baik. Mulai dari adab, adat, penghuni, fungsi dan seluk beluk dari “rumah” itu diperkenalkan pada hari pertamaku duduk di dalam “rumah”. Dari situ, kekagumanku padamu semakin bertambah dan niatku sedikit berotasi yang awalnya hanya ingin dekat denganmu hingga menjadi mantap ingin jadi salah satu penghuni baru “rumah” itu.

       Ada beberapa hal “baru” yang kudengar dan kupelajari dalam “rumah” itu.Pertama adalah akhi, ukhti atau ikhwan akhwat.Itu adalah panggilan yang lazim digunakan untuk penghuni “rumah”. Usut punya usut, akhi, ukhti atau ikhwan akhwat punya arti saudara  laki-laki untuk akhi or ikhwan dan saudara perempuan untuk ukhti or akhwat dalam bahasa arab. Awalnya aneh sih dipanggil dengan sebutan ukhti atau akhwat, bahkan kalo boleh jujur sampe sekarangpun aku belum terlalu nyaman kalau dipanggil ukhti. Hal baru yang kedua adalah budaya salam semut. Jadi budaya salam semut itu adat yang diterapkan ketika kita berjumpa dengan sesama penghuni “rumah” yang “sejenis”. Ada caranya juga loh mempraktekan salam semut. Pertama ucapka salam “assalamualaikum”, kemudian berjabat tangan layaknya pemain bola yang mengawali pertandinga dengan moto “fair play” kemudian dilanjutkan cipika cipiki. Eits ada yang ketinggalan, selama mengadakan ritual salam semut (kesannya kaya magis banget, hehe…) para penghuni “rumah” juga sebaiknya menunujukan senyum simetris, senyum 2 cm kanan 2 cm kiri selama 2 detik. Tapi ngga perlu diukur ko, karena tidak ada petugas keamanan “rumah” yang bakalan mengukur. Apalagi tak ada undang-undang dalam “rumah” yang mewajibkan demikian, dalil yang menjadi dasar ukuran senyum simetris hanya sebaiknya.

          Awalnya sih aneh dan ngrasa ribet, tapi lama-kelamaan asik juga, karena aku bisa tuh sering-sering berjabat tangan dan bercipika cipiki ria dengan kamu. Tapi ada satu yang sedikit menggangguku, ketika kalian memasuki “rumah” biasakan memakai rok ya adik-adik. Begitulah kira-kira wejangan yang diungkapkan mba X. Ribet, itulah kata pertama yang terlintasan dialam pikiranku, karena notabennya aku nda terlalu nyamana kalo suruh pake rok, bahkan ketika itu aku sama sekali tak punya rok selain rok sekolah. Karena ingin jadi penghuni “rumah” yang baik, akumengikuti wejangan beliau.Ketika aku pulang ke”rumah”, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku minta dibeliin rok bebas ke mama.

         Detik berlalu, jam berganti dan haripun tak mau kalah ikut berputar. Lama kelemaan aku bisa memahami “rumah” seperti apayang aku tempati. Aku mulai nyaman menjalankan adat dalam “rumah” dan mengikuti berbagai kegiatan dalam “rumah” baruku itu.Dari “rumah” itu, aku menemukan banyak hal baru dan luarbiasa dalam hidupku. Mulai dari penghuni “rumah” yang luar biasa, yang kalo dalam bahasa biologi itu namanya spesise langka,hehe… kegiatan, pegetahuan yang luar biasa pula yang bisa kugali selama aku menjadi penghuni “rumah” itu.Kekagumanku padamu ternyata tak salah. Ketika aku tahu kamu itu seperti keadaanmu dahulu (dan semoga akan semakin lebih baik,amin..), terluncur kalimat “ko masih ada ya orang kaya gitu” dari mulutku.

        Beberapa bulan berlalu, aku mengokohkan pondasi di hati dan pikiranku untuk seutuhnya masuk dan menjadi penghuni “rumah” yang berusaha merawat danmenjaga“rumah” agar semakin banyak temanku yang mau mampir barang sekejap ke “rumah”ku meski hanya untuk ngadem. Aku ingin apa-apa yang dimilki “rumah” itu mampu memberi manfaat bagi banyak orang, tak hanya bermanfaat bagi orang-orang yang berada di dalam “rumah”. Aku ingin kenyamanan yang kurasakan ketika di dalam “rumah” juga bisa dirasakan oleh teman-teman yang lain. Salah satu cara agar mereka mau mengunjungi “rumah”ku adalah dengan menjaga keutuhan, kebersihan, kerapian, kenyamanan dan keharuman dari “rumah”ku.

         Banyak rintangan yang kuhadapi selama aku diamanahi tugas untuk mewujudkan “rumah” yang nyaman.Terkadang, sapu yang biasa kugunakan untuk menyapu patah bahkan hilang.Namun itulah seninya, karena seni itu indah, dan disitulah aku bisa menikmati indahnya menjadi salah seorang penghuni“rumah”. Meski aku tahu, usahaku tak 100% berhasil dalam mewujudkan “rumah” yang nyaman bagi teman-teman diluar lingkungan “rumah” bahkan mungkin juga bagi penghuni “rumah” yang lain. Namun harapan untuk mewujudkan “rumah” yang nyaman itu masih bisa diteruskan oleh penghuni “rumah” yang lain. Ganbate akhifillah… lanjutkan perjuangan untuk menjadikan “rumah” kita menjadi pusat pendidikan dan beristirahat bagi semua orang di sekitar lingkungan “rumah”.Jadikan “rumah” kita sebagai tempat yang seantiasa disinari oleh rahmat dan maghfirohNya. Yakinlah, kita semua akan mendapatkan rumah yang lebih baik kelak ketika kita ikhlas dalam pengabdian kita dalam “rumah” kita. Syukurku panjatkan padamu ya Robb, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, yang telah mengizinkanku masuk kedalam “rumah” itu dan bertemu dengan banyak hal luar biasa yang Kau anugrahkan dalam hari-hariku.

          Awal menjadi penghuni “rumah”, semangat masih membara kaya mahasiswa yang hendak demo menentang aturan yang menurut mereka tidak memihak kepentingan rakyat. Aku masih dengan semangat 45 mengikuti berbagai kegiatan dan agenda yang disepakati oleh tetua “rumah” dan seluruh anggota penghuni “rumah”. Bagiku semuanya sangat menarik dan menyenangkan.Tak dapat kupungkiri, kebersamaan adalah hal yang menjadi unggulan dalam “rumah” kita.Namun bulan berganti bulan, aku mulai sadar ada sesuatu dalam “rumah” yang tak kusukai.

        Seringkali penghuni “rumah” tak taat pada komando tetua “rumah”, hingga akhrinya seringkali system keamanan dalam “rumah” terganggu. Bahkan tak jarang, penghuni “rumah” meninggalkan “rumah” tanpa seizing tetua “rumah”.Dan disinilah titik puncak kejenuhanku sebagai penghuni “rumah”.Aku bosan dan malas untuk mengikuti kegiatan di“rumah”.ada tugas ini bos, mau kerja kelompok,mau pulkam bos, itulah senjata terampuhku untuk kabur dari“rumah”.
Namun setelah resmi menjadi mantan anggota “rumah” itu, aku baru sadar ternyata “rumah” itu adalah “rumah” ke 2 dihidupku. Ketika awal-awal lepas dari tugas “rumah”, aku ngerasa bebas.Tapi kurasa ada yang kurang dalam hari-hariku.Aku merasa ada yang hilang.Ternyata aku rindu suasana “rumah”ku dulu.Aku rindu duduk berlama-lama di dalam “rumah”.aku merindukan apa-apa yang ada di dalam “rumah”.

        Eits, tp ada benernya juga pepatah yang mengatakan mati satu tumbuh seribu. Tergusur dari “rumah”ku disekolah, aku menemukan lagi “rumah” yang indah di luar sana. Kusebut tempat itu sebagai “saung”.Tempatnya emang agak sedikit di luar jangkauanku.Tak sedekat “rumah”ku.Tapi setidaknya itu bisa menjadi tempat istirahat bagiku.“saung” itu begitu sejuk, nyaman, asri dan penuh kreatifitas dari para penghuninya. Mereka sangat welcome pada siapapun yang ingin mengikuti kegiatan di”saung”. Ada banyak ilmu dan orang luar biasa nan kreatif yang kukenal di”saung” itu.“rumah” dan “saung”, kalian adalah tempat luar biasa yang Alloh berikan padaku untuk bertemu dan mengenal penghuninya.

           Thanks for “mu” as mba Ayyu Zahara, u give me big motivation. I am so happycz I ever know u. thanks to kaka angkatan (mb dewi, mb una, ka masda, mb anjani, ka ardi, ka amar, mb isma, mb ci2t, mb mita, ka wisnu, mb nora, mb jijah, mb putri dan mba-mba kaka-kaka yang lain tak mungkin ku sebutkan satu persatu), terimakasih untuk bimbingannya. Tak lupa kuucapkan sukron untuk pendiri “rumah” yang tak pernah kukenal serta kaka diatasku yang tak kujumpai yang mungkin sedang mengindah-indahkan “rumah” lain di luar sana atau mungkin membangun “rumah”-”rumah” sejenis.

          Untuk teman seperjuangan,(pak bos, mbak bos, pak pembesar, puput fatih yasin rifa jijah tetuko sabil fina ombul mita kahfi rifq bang ipul fian siti firda towi dwi dkk) terimakasih kalian telah menggoreskan tinta emas dalam buku perjalanan hidupku. Kalian mengajarkanku banyak hal dan menceritakan hal-hal luar biasa. Untuk adik-adikku tercinta yang masih berjuang untuk “rumah” kita, kalian adalah multivitamin bagiku.Kalian adalah mitokondria yang memberi pasokan energy ketika aku letih dan lesu menghadapi seabreg pekerjaan “rumah”.kalian adalah payung yang melindungiku dari hujan kebosanan. Teruslah berjuang..hamasah!!!!
mba atun di”saung” ashishi, kaulah sang murobbi dalam hidupku. Pak anton, mb yanti, mb lusi, mb yuyun mb ika pak fauzan dan seluruh penghuni “saung”, thanks a lot for the best adventure when I come to “saung”.

          Teruslah semangat untuk mempercantik “rumah” kita. Kuatkan pondasi jika akan membangun “rumah” baru. Aku yakin ada voucher untuk mendapatkan pe”rumah”an ketika kita istikomah meramaikan “rumah” kita. Kita akan berkumpul dalam satu pe”rumah”an beranama Jannah yang memilki 7 kompleks. Hanya dengan melewati jalan dakwahlah kita bisa sampai di pe”rumah”an itu. Menunggangi kendaraan amal soleh dengan pengemudi Muhamad SAW berpegang pada peta Alquran dan kompas Alhadis agar tak tersesat, serta diterangi cahaya ketakwaan dan keistikomahan, qt akan berkumpul di “rumah” bernama JANNAH,amin….

by Osin Hadosin on Tuesday, July 3, 2012 at 11:56am



Allah.. :')
Terharu sekali dek mba bacanya, smg Osin bs jauh lebih baik dr mba..
Syukron jazakillah jg udah bisa mengenal Osin, si mungil yang sllu ceria nan sholihah..
Selamat menjadi pejuang baru di "rumah" baru :)

Uhibbukum fillah yaa RIMA'ers

Senin, 02 Juli 2012

Sepucuk Rindu untuk Aurora


Padamu sang pipi merah merona 
Hadir kembali membangkitkan asa 
Menemuimu dalam bentang padi di sawah 
Bercanda tawa saling kejar 
Menyapa para petani yang bahagia 
Memanen jeri payah mereka 

Padamu sang pipi merah merona 
Auramu pancarkan kerinduan 
Setiap helai rambutmu masih kuingat 
Panjang melambai seperti hendak menyibakkan kata ceriamu 
Bernyanyi dalam ruang tak bersekat 
Berdua 

Padamu sang pipi merah merona 
Duduk kau pada sebuah kursi roda 
Tak ada lagi kata hendak kau ucap 
Memandangku pun tidak 
Ini akhir kau candai aku 
Kangker otak telah rajaimu 
Hingga tak lagi sempat kau kejarku dalam bentang padi di sawah 

Padamu sang pipi merah merona 
Petani kini masih bahagia 
Memanen jerih payah mereka 
Meski tak ada lagi dua bocah berkejaran 

Nafasmu kini telah tiada 
Namun pipi merah merona masih setia menemaniku dalam catatan ini 
Aurora.... 

Depok, Ayyu Zahara